Kedatangan Radja Nainggolan ke Liga 1 tak hanya menghidupkan pasar transfer paruh musim Liga 1, tetapi juga menonjolkan nilai kontraknya yang tinggi. Sumardji, COO Bhayangkara FC, mengkonfirmasi perekrutan Nainggolan kepada Klikolahraga.com. Nilai kontrak Nainggolan selama enam bulan melebihi Rp5 Miliar, disepakati bersama BNI sebagai sponsor klub.

Meskipun Nainggolan memiliki pengalaman di Serie A, beberapa pemain yang bermain di Liga 1 maupun liga luar negeri mengungkapkan bahwa gaji mereka di Indonesia lebih besar. Asnawi Mangkualam menyatakan bahwa gaji di Liga 1 jauh melampaui K League 2. Namun, beberapa pemain merasakan perbedaan intensitas permainan antara Liga 1 dengan liga di luar negeri.

Witan Sulaeman dan Egy Maulana Vikri yang bermain di Liga Super Slovakia menyampaikan pendapat yang serupa, menyoroti tantangan yang berbeda antara bermain di Eropa dan Indonesia. Mereka mengakui potensi gaji lebih tinggi di Eropa dengan usaha lebih keras.

Taisei Marukawa, pemain terbaik Liga 1 musim 2021/2022, mengungkapkan bahwa tawaran gaji di klub Indonesia bisa jauh lebih besar daripada di Eropa. Bahkan, Marukawa menyatakan gajinya setara dengan pemain top klub J1 League.

Meskipun nilai kontrak fantastis menjadi daya tarik bagi pemain, isu tunggakan gaji juga menjadi perhatian. Bernardo Tavares, pelatih PSM Makassar, mengeluhkan keterlambatan pembayaran gaji kepada pemain dan staf klub. Hal ini menunjukkan kontradiksi antara nilai kontrak tinggi dengan masalah finansial yang dihadapi oleh beberapa klub.

READ  Profil dan Perjalanan Karier Hugo Samir Winger Timnas Indonesia

Candra Wahyudi, manajer Persebaya Surabaya, menjelaskan bahwa pembayaran gaji pemain sesuai dengan kontrak yang disepakati awalnya. Namun, masih terdapat kasus keterlambatan pembayaran gaji pemain di beberapa klub, seperti yang dialami oleh PSM Makassar.

Hardika Aji, CEO Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia (APPI), menyebut bahwa label “mahal” atau “murah” untuk nilai kontrak masih relatif. Tanpa regulasi yang mengatur, transparansi keuangan klub menjadi sulit. APPI mendukung penerapan salary cap untuk menyamaratakan klub dalam liga dan mencegah manipulasi.

APPI juga menyediakan wadah bagi pemain yang mengalami masalah keterlambatan pembayaran gaji, dengan menjadi perwakilan mereka dalam negosiasi dengan klub. Masalah keterlambatan pembayaran gaji bukan hanya terjadi di Liga 1, tetapi juga di Liga 2, dengan beberapa klub belum melunasi pembayaran gaji pemain.

Kesimpulannya, sementara nilai kontrak tinggi menjadi daya tarik bagi pemain, isu keterlambatan pembayaran gaji menyoroti kompleksitas dan tantangan yang dihadapi oleh klub sepak bola Indonesia. Diperlukan regulasi yang lebih ketat dan perencanaan keuangan yang baik untuk menangani masalah ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here